Image

Unik dan Tak Biasa: Kebiasaan Kerja di Eropa dan Timur Tengah yang Bikin Kaget

Budaya kerja di setiap negara punya ciri khas tersendiri. Jika di Indonesia lembur sering dianggap hal biasa dan komunikasi cenderung fleksibel, di sejumlah negara Eropa dan Timur Tengah justru ada kebiasaan unik yang mungkin terasa asing bagi pekerja Indonesia.

Berikut beberapa kebiasaan kerja yang umum ditemui di kawasan Eropa dan Timur Tengah:

1. Pulang Tepat Waktu adalah Hal Wajar (Eropa)

Di banyak negara Eropa seperti Jerman, Belanda, dan Prancis, pulang tepat waktu bukan dianggap malas, melainkan profesional. Jam kerja dihargai dengan tegas. Jika kontrak menyebutkan pukul 17.00 selesai, maka kantor bisa benar-benar sepi beberapa menit setelahnya.

Bahkan di beberapa negara, atasan tidak mendorong karyawan untuk membalas email di luar jam kerja. Work-life balance menjadi prinsip utama.

2. Coffee Break Itu Serius (Eropa Selatan)

Di Italia dan Spanyol, coffee break bukan sekadar ambil kopi lalu kembali ke meja. Waktu istirahat ini bisa menjadi momen sosial yang penting. Rekan kerja berdiskusi santai, membangun relasi, bahkan membahas ide-ide proyek secara informal.

Budaya ini menunjukkan bahwa hubungan personal dianggap sama pentingnya dengan produktivitas.

3. Hierarki Sangat Dihormati (Timur Tengah)

Di banyak negara Timur Tengah, struktur organisasi dan senioritas sangat dihargai. Keputusan sering datang dari level atas, dan komunikasi biasanya lebih formal.

Menghormati atasan bukan hanya soal jabatan, tetapi juga budaya. Nada bicara, cara duduk dalam meeting, hingga cara menyampaikan pendapat memiliki etika tersendiri.

4. Fleksibel Saat Waktu Ibadah (Timur Tengah)

Di negara-negara dengan mayoritas Muslim, waktu kerja bisa menyesuaikan jadwal salat. Saat azan berkumandang, sebagian karyawan akan mengambil waktu untuk beribadah.

Bahkan selama bulan Ramadan, jam kerja bisa dipersingkat dan ritme kantor berubah. Produktivitas tetap dijaga, namun dengan penyesuaian kondisi fisik dan spiritual.

5. Meeting Singkat dan To The Point (Eropa Utara)

Negara seperti Jerman dan negara-negara Skandinavia dikenal dengan budaya meeting yang efisien. Agenda jelas, waktu dibatasi, dan diskusi fokus pada solusi.

Terlambat datang meeting dianggap tidak profesional. Persiapan sebelum rapat menjadi standar yang tak tertulis.

6. Small Talk Itu Penting (Timur Tengah)

Berbeda dengan budaya kerja yang sangat to the point, di banyak negara Timur Tengah, membangun hubungan personal terlebih dahulu adalah kunci.

Pertemuan bisnis bisa diawali dengan percakapan panjang soal keluarga, kesehatan, atau kabar terbaru. Kepercayaan dibangun sebelum transaksi dilakukan.

Beda Budaya, Beda Cara

Perbedaan kebiasaan kerja ini menunjukkan bahwa profesionalisme tidak selalu punya definisi yang sama di setiap negara. Ada yang menekankan efisiensi waktu, ada yang mengutamakan relasi, ada pula yang menempatkan nilai agama sebagai bagian dari sistem kerja.

Bagi calon pekerja migran Indonesia (CPMI), memahami budaya kerja lokal menjadi kunci utama untuk bisa bertahan dan berkembang. Skill teknis memang penting, namun kesiapan bahasa, etika komunikasi, serta pemahaman budaya kerja sering kali menjadi faktor penentu keberhasilan di luar negeri.

Karena itu, Elite Recruitment selalu mempersiapkan para CPMI agar benar-benar siap secara profesional sebelum diberangkatkan. Mulai dari pelatihan bahasa, pembekalan budaya kerja, hingga pengajaran tips dan trik serta kisi-kisi menghadapi dunia kerja di negara tujuan.

Sebab bekerja di luar negeri bukan sekadar tentang mendapatkan pekerjaan, melainkan tentang kesiapan menghadapi sistem, budaya, dan tantangan yang berbeda.

 

© Elite International Recruitment 2025